Maaf, Parkir Penuh!


@aLiefNK | MALANG - "Wow!" Itulah kata yang saya ucapkan ketika memasuki area parkir Perpustakaan Pusat Universitas Brawijaya (UB), Malang. Saya cukup kaget dengan kondisi tempat parkir yang penuh. Maklum, jarang ke kampus. Hehehe. Padahal jam baru menunjukkan pukul 07.30 atau jam mata kuliah perdana. Motor yang terparkir meluber hingga memakan pinggir badan jalan. Heran, padahal beberapa tahun lalu keadaan tempat parkir tidak separah ini. Paling cuma mobil yang biasa diparkir di pinggir jalan. Hebatnya, deretan motor yang diparkir di pinggir jalan bertrotoar sangat rapi sehingga menyulitkan pejalan kaki yang lewat saat akan menyeberang.

Tak cuma di area parkir Perpus Pusat, di beberapa fakultas juga terlihat motor terparkir di pinggir jalan. Setidaknya yang saya tahu adalah di Fakultas MIPA, Fakultas Perikanan serta Fakultas Ilmu Budaya. Lahan parkir yang semakin sempit disinyalir menjadikan motor terparkir di pinggir jalan. Apalagi pihak UB sedang membangun beberapa gedung baru. Jangankan lahan parkir yang tergusur, Stadion UB pun ikut tergusur karena di atasnya dibangun gedung baru untuk Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Sayangnya saat saya amati, petugas parkir di area Perpus Pusat UB hanya santai duduk dan hanya sesekali membantu mengatur posisi parkir, mencarikan tempat, mengeluarkan motor. Ya, pengguna parkirnya yang harus 'kreatif', 'gratis' sih parkirnya. Hehehe.

Hmm, sebenarnya tak cuma di UB saja yang mengalami hal ini. Parkir yang meluber sampai di pinggir jalan (bahkan tragisnya, naik ke trotoar, dan ini yang njancuki) juga terjadi di tempat-tempat umum di Kota Malang, terutama pusat perbelanjaan. Ambil contoh ketika saya main-main ke mall Malang Town Square (Matos). Saya selalu ke Matos sekitar jam 10 atau jam buka Matos agar mendapat tempat parkir di dalam area Matos/lantai dasar. Tempat yang terbatas menjadi pertimbangan saya. Jam segitu saja biasanya sudah agak susah cari tempat untuk parkir. Bahkan jam 12'an sudah ada petugas parkir yang menghadang motor yang mau parkir di dalam dan menyarankan untuk parkir di area luar Matos. Saya trauma parkir di sisi luar area Matos, soalnya pernah lupa cabut kunci dan kena deh! "Uang rokok," kata penjaga parkirnya. Duh! Eh kalau yang di parkir dalam Matos pernah juga 'kehilangan' sebungkus rokok yang lupa tertinggal di motor. *dasar tukang parkir nggragas!* :p Tetapi enaknya parkir di tempat berbayar adalah tukang parkirnya mau membantu mencarikan tempat untuk parkir si motor. ;)

Semakin membludaknya motor di tempat parkir setidaknya merupakan imbas dari semakin banyaknya motor yang beredar di Kota Malang. Tak hanya motor ber-plat N, tetapi motor-motor ber-plat lainnya, terutama milik mahasiswa pendatang maupun kaum urban seperti saya ini. Ngomong-ngomong soal motor plat N nih, Pertengahan Mei ini saya baru tahu kalau huruf belakang motor ber-plat N sudah memakai 3 digit! *ingat isu nasional tentang stok blangko STNK/BPKB yang habis* Saya terkesima saat melihat motor ber-plat nomor N ---- AAA yang terparkir di dekat kos. Soalnya setahu saya baru di Jakarta saja yang memberlakukan plat berhuruf belakang 3 digit (tetapi kata teman saya di Solo pun juga demikian). "Tambah keren saja ini Kota Malang," begitu pikir saya. Siap-siap saja Kota Malang tambah macet. Dan lahan parkir merupakan bisnis yang menjanjikan (makanya banyak tukang parkir jotos-jotos'an rebutan lahan parkir). Ah, tinggal menunggu apa 'proyek' Walikota Kota Malang yang baru untuk mengatasi kemacetan dan parkir yang memakan badan jalan/trotoar.

Sekian dan terima pacar. ♥ (з´⌣`ε)

6 Komentator Blogger
Komentator Facebook

6 comments: